Persaingan bisnis perfilman Indonesia yang semakin ketat membuat berbagai Rumah Produksi Film( Production House) bersaing membuat berbagai jenis flim yang dapat menarik banyak penonton. Untuk memperoleh keuntungan, rumah produksi flim menggunakan berbagai cara agar filmnya laris. Ada beberapa Film hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memperhatikan kualitas yang baik dari flim tersebut. Tidak dapat dipungkiri begitu banyak flim indonesia yang hanya menonjolkan unsur-unsur "sensualitas/pornografi", sehingga tidak ada pesan moral yang terkandung di flim tersebut. Apakah ini karena flim-film indonesia sekarang ini terpengaruh dari flim-flim luar negri?. Seorang penonton yang selesai menonton sebuah flim Indonesia mengatakan: " ini mah bukan film horor,tetapi film porno. lebih banyak adegan sensualnya daripada horornya". Memang sangat menyedihkan melihat perfilman Indonesia saat ini, apalagi saya pernah melihat orangtua dan anaknya yang masih kecil menonton flim yang seharusnya tidak layak ditonton untuk anak dibawah umur. Tentu saja hal ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak bangsa.
Melihat mirisnya perfilman Indonesia, pemerintah membuat RUU perfilman, hal ini tentu saja menjadi pro-kontra. sebagian ada yang suka dan tidak. Para pembisnis flim tentu saja tidak setuju, karna di anggap membatasi kreatifitas anak bangsa. Sebenarnya siapa saja pihak yang bertanggung jawab terhadap masalah ini? Apakah Lembaga Sensor tidak cukup mengatasi masalah ini, sehingga pemerintah harus turut campur tangan mengatasi masalah perfilman Indonesia?. Lembaga sensor seharusnya lebih cermat dalam memilih film yang boleh ditanyakan atau tidak, dan sebaiknya dibuat peraturan dalam penayangan film di bioskop-bioskop, seperti film khusus dewasa ditanyangkan pada jam-jam tertentu dan semestinya ada larangan untuk anak-anak dibawah umur agar tidak diperbolehkan menonton flim dewasa, karena tidak etis flim untuk orang dewasa ditonton oleh anak-anak dibawah umur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

manohara, isabela, jiran
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus